Kamis, 19 Juni 2014

Karena Kau Tulang Rusukku....

Sebuah kisah inpirasional...


Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang 
lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang 
memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong 
percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta 
kepastian. ya, tentang cinta. 

Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini? 
Raka : Kamu dong? 
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa? 

Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang 
rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam 
tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua 
pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita 
untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati." 

Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis 
untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam 
kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup 
mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka 
mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. 

Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin 
panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari 
keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak, "Kamu nggak 
cinta lagi sama aku!" 

Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik 
berteriak, "Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang 
rusukku!" 

Tiba-tiba Dara menjadi terdiam , berdiri terpaku untuk beberapa saat. 
Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah
dia dengar. 

Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang 
telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. 

Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil 
barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. "Kalau aku bukan tulang 
rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan 
sejati masing-masing. " 

Lima tahun berlalu. 

Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan 
Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, 
bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua 
informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi 
kesempatan untuk kembali, Dara tak menunggunya. 

Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia 
merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui 
bahwa dia merindukan Dara. 

Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat 
ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan 
hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas. 

Raka : Apa kabar? 
Dara : Baik... ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang? 
Raka : Belum. 
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut. 
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. 
Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada 
yang berubah. 

Dara tersenyum manis, lalu berlalu. 

"Good bye...." 

Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan,
dan meninggal. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali 
merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah 
karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia 
patahkan. 

"Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita 
cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar